A scientific publishing institution dedicated to disseminating knowledge through the management of reputable and ethical academic publications.
Buku ini menghadirkan eksplorasi komprehensif tentang bagaimana agama dan budaya saling berinteraksi, bernegosiasi, dan bertransformasi dalam masyarakat Indonesia kontemporer. Dengan pendekatan multidisipliner, para penulis mengurai berbagai praktik sosial-keagamaan yang hidup di tengah masyarakat, mulai dari tradisi Jawa, ritual lokal Nusantara, hingga ekspresi budaya yang lahir dari perjumpaan panjang antara nilai spiritual dan kearifan lokal. Buku ini menegaskan bahwa hubungan dinamis antara agama dan budaya berperan penting dalam membentuk harmoni sosial, meski tidak terlepas dari tantangan eksklusivisme dan polarisasi di era digital.
Berbagai tradisi seperti slametan di masyarakat Jawa, undhu-undhu di Mojowarno, dan ritual mbeleh golekan di Kediri menggambarkan perpaduan harmonis antara nilai religius dan budaya lokal. Begitu pula dalam komunitas Suku Samin, nilai kesederhanaan dan gotong royong tetap lestari meskipun modernisasi terus berlangsung. Buku ini juga membahas tari Saman sebagai bentuk ekspresi spiritual dan budaya yang memperkuat identitas kolektif, serta menyoroti bagaimana setiap praktik tradisional menjadi ruang bagi toleransi, kolaborasi, dan pelestarian identitas.
Ritual tiwah di Kalimantan Tengah dan nyadar di Madura memperlihatkan bagaimana masyarakat lokal memadukan nilai keagamaan dan kepercayaan tradisional dalam menjaga harmoni sosial. Sementara tradisi sungkeman di Surabaya menegaskan pentingnya penghormatan antargenerasi sebagai bagian dari identitas budaya Jawa yang terus hidup di tengah modernitas. Secara keseluruhan, buku ini memperlihatkan bahwa keberagaman Indonesia dibangun melalui dialog panjang antara nilai religius dan budaya lokal—menjadikan perbedaan bukan sebagai pemisah, melainkan sebagai kekuatan yang mempersatukan.
“Damai di Sekolahku: Harmoni Budaya & Agama di Madrasah” menggambarkan bagaimana madrasah dapat menjadi ruang belajar yang memadukan nilai-nilai keagamaan dengan keberagaman budaya secara harmonis. Buku ini menyoroti pengalaman nyata para guru, siswa, dan pimpinan madrasah dalam membangun lingkungan pendidikan yang damai, inklusif, dan saling menghargai perbedaan.
Melalui narasi yang inspiratif dan contoh praktik terbaik, buku ini menjelaskan bagaimana proses pembelajaran, budaya sekolah, serta kegiatan keagamaan dapat diintegrasikan untuk memperkuat karakter moderat dan empati antarwarga sekolah. Pembaca diajak memahami berbagai strategi seperti dialog lintas budaya, kolaborasi antarsiswa dari latar berbeda, penyelesaian konflik secara bijaksana, hingga program sekolah yang menumbuhkan toleransi dan persaudaraan.
Tidak hanya menjadi panduan konseptual, buku ini juga menyajikan langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan guru dalam kelas, mulai dari metode pembelajaran inklusif hingga aktivitas reflektif yang membangun kesadaran akan keberagaman. “Damai di Sekolahku” menjadi rujukan penting bagi madrasah dan institusi pendidikan lainnya yang ingin menciptakan ekosistem belajar yang harmonis, teduh, dan penuh penghormatan terhadap pluralitas budaya serta agama.
Buku ini menyingkap realitas kekerasan, ketidakadilan, dan pengabaian yang kerap tersembunyi di balik dinding rumah serta budaya patriarki. Lebih dari sekadar memotret trauma, karya ini menawarkan jalan keluar nyata—mulai dari pendekatan empati hingga langkah-langkah kebijakan strategis.
Dengan mengombinasikan data penelitian, kisah nyata, dan refleksi kemanusiaan, buku ini menegaskan bahwa kekerasan gender dan pelanggaran hak anak masih menjadi tantangan sistemik. Penulis memaparkan solusi konkret melalui pendidikan, penegakan hukum, dukungan sosial, dan pemberdayaan komunitas sebagai kunci pemulihan.
Setiap bab di dalamnya menjadi pengingat bahwa perlindungan perempuan dan anak adalah tanggung jawab moral kolektif, bukan sekadar beban negara. Buku ini mengajak kita untuk menyadari bahwa di balik setiap luka, selalu ada harapan yang bisa dibangun bersama.
Ditulis dengan nada yang tegas namun penuh empati, buku ini wajib dibaca oleh para aktivis, akademisi, pembuat kebijakan, maupun masyarakat umum yang berkomitmen menciptakan dunia yang lebih aman dan adil bagi perempuan serta anak.
Buku ini membahas fenomena bullying sebagai salah satu persoalan serius dalam dunia pendidikan modern. Perilaku perundungan dipahami bukan hanya sebagai tindakan agresif yang dilakukan secara fisik, verbal, sosial, maupun melalui media digital, tetapi juga sebagai bentuk penyimpangan moral yang berdampak pada kondisi emosional, sosial, dan spiritual peserta didik. Berangkat dari berbagai temuan empiris dan kajian teoretis, buku ini menguraikan secara mendalam faktor penyebab, bentuk-bentuk, serta konsekuensi jangka panjang dari bullying dalam konteks perkembangan remaja.
Pembahasan dalam buku ini diperkuat dengan landasan psikologis, seperti teori pembelajaran sosial, operant conditioning, dan identitas sosial, yang membantu menjelaskan bagaimana perilaku bullying terbentuk dan bertahan dalam lingkungan sekolah. Analisis tersebut kemudian diperkaya dengan perspektif konseling Islam yang menekankan nilai-nilai akhlak, penghargaan terhadap martabat manusia, dan pentingnya penyucian jiwa sebagai upaya membangun karakter peserta didik.
Buku ini juga menawarkan pendekatan konseling Islam sebagai strategi penanganan yang tidak hanya berfokus pada pemulihan psikologis korban, tetapi juga membimbing pelaku agar mampu memperbaiki perilakunya melalui penguatan spiritual. Metode yang digunakan meliputi asesmen kasus, konseling individu dan kelompok, muhasabah, dakwah fardiyah, bimbingan rohani, serta terapi shalat sebagai sarana menenangkan hati dan membangun ketahanan diri. Seluruh pendekatan ini dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, selaras, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.
Selain strategi penanganan, buku ini turut menekankan pentingnya peran guru BK, orang tua, teman sebaya, serta budaya sekolah dalam upaya pencegahan bullying. Rekomendasi implementatif disajikan pada bagian akhir sebagai panduan bagi lembaga pendidikan untuk membangun ekosistem sekolah yang lebih humanis, inklusif, dan menghormati martabat setiap peserta didik. Secara keseluruhan, buku ini hadir sebagai rujukan bagi pendidik, konselor, mahasiswa, orang tua, serta pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan yang membutuhkan pendekatan komprehensif dan aplikatif dalam pencegahan serta penanganan bullying melalui nilai-nilai konseling Islam.
Buku Best Practice Pendidikan Toleransi Beragama di Sekolah menghadirkan kajian komprehensif tentang bagaimana sekolah dapat menjadi ruang strategis dalam menanamkan nilai-nilai toleransi di tengah keberagaman agama, budaya, dan identitas bangsa.
Melalui contoh nyata, studi kasus, dan langkah-langkah implementatif, buku ini menyoroti tantangan intoleransi, peran guru, kurikulum, serta strategi whole-school approach dalam membangun lingkungan pendidikan yang inklusif. Di dalamnya, pembaca akan menemukan analisis filosofis, refleksi sosial, serta solusi konkret yang dapat diterapkan di sekolah. Lebih dari sekadar kajian akademis, buku ini adalah panduan praktis untuk menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan penghalang, demi terciptanya generasi yang rukun, damai, dan berkarakter.
Dalam era digital yang serba cepat, ruang maya menjadi medan baru bagi manusia untuk berinteraksi, berekspresi, dan mencari makna. Buku "Tasawuf di Dunia Maya: Transformasi Nilai Sufistik dan Etika Bermedia Sosial" menghadirkan refleksi mendalam tentang bagaimana ajaran-ajaran luhur tasawuf dapat dihadirkan dalam perilaku dan budaya digital masa kini.
Dengan pendekatan interdisipliner—menggabungkan kajian spiritual, etika, dan komunikasi digital—buku ini menelusuri bagaimana nilai-nilai ikhlas, zuhud, tawadhu', sabar, dan mahabbah (cinta Ilahi) dapat menjadi fondasi moral dalam bermedia sosial. Melalui perspektif sufistik, penulis mengajak pembaca untuk melihat media sosial bukan sekadar ruang hiburan, tetapi juga sebagai ladang tazkiyah an-nafs (penyucian jiwa) dan sarana membangun peradaban digital yang lebih beradab.
Buku ini juga membahas fenomena ego digital, pamer spiritualitas, kecanduan pengakuan, serta pergeseran makna ikhlas di era algoritma. Di sisi lain, penulis menawarkan kerangka etika sufistik untuk mengatasi polarisasi, ujaran kebencian, dan krisis empati yang merebak di dunia maya.
Ditulis dengan gaya reflektif namun tetap ilmiah, buku ini relevan bagi mahasiswa, akademisi, pegiat dakwah digital, dan siapa pun yang ingin memaknai kembali kehidupan spiritual di tengah derasnya arus informasi.
Director
Our Values
Scholarly
Upholding knowledge and common sense
Inclusive
Open to all segments of society
Trustworthy
Maintaining trust in every service
high-quality
Providing outstanding and professional products and services
CV Cita Cendekia
A scientific publishing institution dedicated to disseminating knowledge through the management of reputable and ethical academic publications.
Copyright © 2026 Book Cita Cendekia. All rights reserved.
Content is professionally managed by the Editorial Team. The User Interface (UI/UX) is customized and enhanced by Cita Cendekia, assisted by Gemini (Google LLC).
The platform is powered by Open Monograph Press - Public Knowledge Project (OMP PKP).